Admin
Jumat, 29 Agustus 2025
Dinas Kearsipan dan Perpustakaan Kabupaten Pekalongan merupakan Lembaga Kearsipan Daerah yang mempunyai tugas antara lain pelaksanaan kebijakan, pengawasan, penyelamatan dan pelestarian arsip. Arsip Koperasi Batik Pekajangan merupakan salah satu kahsanah arsip milik Dinas Kearsipan dan Perpustakaan Kabupaten Pekalongan yang memiliki sejarah terkait perkoperasian dan merupakan koperasi generasi pertama di Indonesia yang masuk nominasi sebagai memori kolektif bangsa.
Secara historis, buku 20 Tahun Gabungan Koperasi Batik Indonesia (GKBI) mencatat bahwa koperasi batik bumiputra merupakan bagian dari arus perjuangan ekonomi nasional pada masa kolonial, di tengah ketidakadilan struktural perdagangan yang lebih menguntungkan saudagar China dan Arab bermodal besar. Perlawanan pengusaha batik bumiputra terhadap sistem yang diskriminatif ini diwujudkan melalui pembentukan organisasi kolektif. Pada tahun 1937, didirikan Koperasi Persatuan Perusahaan Batik (P.B.B) Pekajangan dan berbadan hukum dengan nama Cooperatie Boemipoetra Keperloean Peroesahaan Batik “ Persatoean Batikkerij” yang disahkan oleh Inspecteur voor de Cooperatie di Batavia tanggal 2 Maret 1940 No. 660.
Koperasi ini muncul atas dorongan tokoh-tokoh yang memiliki kepedulian besar terhadap kemajuan industri batik nasional. Tujuan utamanya adalah mengatasi kondisi ekonomi yang timpang dengan membentuk sistem kerja sama yang sesuai dengan kondisi dan aspirasi pengusaha batik saat itu, yaitu dengan strategi bertahap: pertama, membeli cambric langsung dari importir (Cambrics Covenant); kedua, mengimpor sendiri; dan ketiga, memproduksi cambric dalam negeri.
Secara historis, periodisasi perkembangan Koperasi Batik Pekajangan dapat dibagi sebagai berikut:
1937–1942: Masa pembentukan koperasi, ketika para pengusaha batik bumiputra mendirikan koperasi untuk mendapatkan akses langsung ke bahan baku, sebagai upaya melawan dominasi pedagang non-pribumi.
1943–1945: Masa pendudukan Jepang, di mana aktivitas ekonomi termasuk industri batik mengalami kemunduran tajam dan hampir berhenti.
1945–1948: Masa regresi militer Belanda I, dimana koperasi sempat mati suri, simpanan dibagikan, dan aktivitasnya berhenti.
1949–1950: Masa pemulihan awal, saat daerah Pekalongan menjadi pusat distribusi bahan baku batik melalui dukungan pemerintah federal, mendorong tumbuhnya kembali industri batik.
1951–1960: Masa pertumbuhan dan industrialisasi, ditandai dengan berdirinya pabrik-pabrik seperti pabrik kaos dan tekstil milik koperasi, serta perluasan usaha hingga sektor ritel dan bahan bakar.
1961–1965: Masa kejayaan koperasi, dimana simpanan dan produksi mencapai titik tertinggi, sebagaimana tercermin dalam laporan tahunan koperasi. Produksi meningkat tajam, usaha koperasi meluas, dan peran koperasi menjadi sangat strategis dalam struktur ekonomi lokal.
1966–1975: Masa transisi dan krisis, seiring perubahan politik nasional, inflasi besar-besaran, dan kebijakan moneter baru. Meskipun anggota tetap bertahan, nilai simpanan koperasi sempat menurun.
1976-1981: Data menunjukkan koperasi masih mampu mempertahankan kegiatan usaha dengan jumlah anggota dan simpanan yang relatif stabil. Produksi tekstil tetap berjalan, namun tanpa ekspansi berarti.
Secara lebih detail mengenai Sejarah Koperasi Batik Pekajangan dapat disaksikan melalui Pameran Virtual Kearsipan dibawah ini. Selamat menyaksikan dan Terimakasih.
Pengunjung jangan lupa isi buku tamu dengan klik link dibawah ini :